15 Alasan Mengapa Profesi Guru Selalu Patut Dibanggakan

Posted on Updated on

Pada periode tertentu, guru pernah menjadi profesi rendahan di negara ini. Hanya sedikit orang yang mau menggeluti profesi ini. Mahasiswa jurusan kependidikan di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) pun banyak yang malu mengakui dirinya calon guru. Kondisi psikologis ini tentu saja bisa dimengerti. Sebab, hingga akhir tahun 90-an kesejahteraan guru masih kalah jauh dibandingkan dengan profesi lain. Selain itu, bergaul dengan anak-anak dianggap sebagai kegiatan yang tidak keren. Berbeda dengan tentara yang gagah, profesi guru dianggap profesi orang dengan bakat semenjana. Namun, anggapan itu ternyata keliru. Mendidik anak-anak adalah keterampilan professional yang memerlukan keahlian tingkat tinggi. Menjadi guru adalah “membangun” masa depan seorang manusia. Oleh karena itu, profesi ini sangat penting bagi individu, masyarakat, bahkan negara. Selain itu, ada 15 alasan guru tetap mnjadi profesi yang patut dibanggakan.
1. Dimensi Spiritual
g1 e1

Kewajiban mengajar adalah kewajiban yang diberikan Tuhan kepada semua manusia dewasa, terutama orang tua. Bagi orang tua, mengajar anak-anak sama wajibnya dengan member anama yang baik dan menikahkan. Pilihan menjadi guru adalah pilihan untuk menjalankan perintah Tuhan. Jika diawali niat baik, pekerjaan sebagai guru akan selalu mendatangkan pahala.

2. Montir Peradaban
Kalau mobil rusak, montir akan memperbaikinya dengan cepat. Tapi, bagaimana jika yang rusak adalah mentalitas sebuah bangsa? Banyak orang percaya, mentalitas sebuah bangsa dapat dibangun melalui pendidikan. Pendidikan yang baik, tentu saja. Konon, ketika negaranya porak poranda setelah dibom oleh Amerika, pertanyaan yang mula-mula meluncur dari mulut Kaisar Hirohitoadalah “Berapa guru yang masih hidup?” Kaisar tidak mempermasalahkan berapa banyak bangunan yang hancur. Ia tidak mempertanykan instalasii militer yang porak-poranda. Bagi dia, selama masih ada guru, peradaban sebagai sebuah bangsa bisa dibangun kembali.

3. Pendiri Bangsa adalah Guru
Dari sekian banyak tokoh yang berkontribusi endirikan negara Indonesia, sejumlah guru memberikan kontribusi yang sangat besar. Ki Hajar Dewantara, misalnya, adalah orang pribumi pertama yang memopulerkan nama Indonesia. Pada tahun 1913, ia mendirikan Indonesia Perss Beureu di Belanda. Ki Hajar adalah guru sejati, pendiri Taman Siswa, sekaligus peletak konsep-konsep dasar pendidikan Indonesia. Tokoh nasional lain, meski lebih populer disebut sebagai insinyur, juga seorang guru. Soekarno. Saat ia dibuang di Ende, ia mengajari anak-anak setempat. Hal yang sama dia lakukan ketika ia diasingkan ke Bengkulu. Tampaknya, pria necis ini sadar betul, pendidikan adalah alat yang efektif untuk menyukseskan revolusi Indonesia. Tokoh kiri yang fenomenal, Tan Malaka, juga seroang guru. Ia mendirikan Sekolah Rakyat. Ia menjadi pengajar utama di sekolah ini. Melalui SR, ia menyeberluaskan gagasan patritoik yang menyulut perlawanan terhadap penjajah. Dengan mengajar, Tan Malaka berupaya menggugah kesadaran rakyat bahwa menjadi bangsa terjajah bukan takdir. Dengan mengajar Tan membumbungkan cita-cita bangsa bahwa kemerdekaan bisa diraih dengan perjuangan.

4. Hubungan Batin
Seorang arsitek mungkin akan sangat membanggakan bangunan supercanggih yang dirancangnya. Tapi, dia tidak akan bisa membangun hubungan batin dengan bangnan itu. Bagi guru, hubungannya dengan siswa bukanlah semata-mata hubungan professional. Di antara mereka selalu terjalin hubungan batin. Dari hubungan itulah kasih sayang tumbuh. Maka tidak heran kalau sperjumpaan dengan guru selalu emosional.

5. Memperluas Persahabatan
Menjadi guru berrati menjadi sahabat anak. Dengan begitu, jaringan persahabatan seroang guru aan terus meluas dari waktu ke waktu. Saat salah satu sahabat pergi untuk melanjutkan pendidikan, sahabat lain yang lebih muda datang. Bayangkan, berapa sahabat yang dimiliki seroang guru yang telah mengajar selama 40 tahun?

6. Update Pengetahuan
Tidak ada guru yang tidak mencintai pengetahuan. Profesi guru menuntut seseorang harus lelau mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan. Bagi guru sejati, proses belajar berjalan terus menerus. Guru yang baik dapat memanfaatkan beragam sumber agak pengetahuannya selalu bertambah.

7. Selalu Muda
Bergaul dengan anak-anak membuat guru selalu bisa mengamati kegairahan kaum muda. Tiap hari guru milihat siswanya bermain, tertawa, juga menyaksikan kenakalan-kenakalan mereka. Ini bisa membuat guru bisa lebih awet muda.

8. Rantai Kebaikan
Selain keterampilan dan pengetauan, yang selalu diajarkan guru adalah nilai. Ya, nilai kebaikan. Nilai-nilai inilah yang menyblim dalam diri siswa menjadi prinsip hidup. Jika nilai yang diajarkan guru terus diamalkan siswanya, guru selalu berjasa atas tiap kebaikan siswanya. Jika siswa kemudian menyiarkan kepada orang lain, nilai kebaikan akan terus memanjang seperti rantai yang tidak pernah putus. Subhanallah.

9. Guru adalah Pembelajar
Sebagai manusia, guru bukan sosok yang sempurna. Guru memiliki peluang melakukan kekeliruan. Tapi, karena salah satu tugasnya adalah mengajarkan kebaikan, guru selalu meningkatkan kualitas diri agar kebaikan yang diajarkannya tercermin dalam tingkah lakunya. Oleh karena itu, bagi guru, memperbaiki diri adalah keniscayaan. Mengajar adalah salah satu cara belajar terbaik.

10. Guru Memberi, Bukan Meminta
Ibarat mata air, yang guru lakukan saat menjalankan tugasnya adalah member. Ia senantiasa mengaliri, tanpa harus meminta. Bagi guru sejati, penghargaan terbesar tidak diperoleh “di sini”, melainkan “di sana” – kelak.

11. Panjang Umur
Banyak guru kita yang telah berpulang keharian Tuhan, tapi berkat kebaikannya, ada sejumlah guru yang senantiasa diingat. Betapa indah membayangkan ada siswa yang menyebut nama kita dalam setiap doa.

12. Menyalurkan Kreativitas
Lantaran berhadapan dengan manusia, guru harus selalu berinovasi untuk menemukan strategi pengajaran yang terbaik. Di sinilah guru ditantang terus menggali kreativitasnya. Kreasi inovatif terutama diperlukan dalam strategi penyampaian dan pengembangan media pembelajaran.

13. Paling Bahagia
Sebuah studi yang dirilis Universitas Chicago menyebtukan, salah satu profesi yang paling membahagiakan adalah guru. Guru disandingkan dengan misionrais, seniman, dan penulis sebagai salah satu profesi yang menjanjikan ketenteraman batin. “Profesi mulia ini adalah posisi ideal yang dibutuhkan seseorang yang ingin mendedikasikan diri demi masa depan generasi bangsa,” demikian disebutkan dalam laporan itu.

14. Sejahtera Meski Sederhana
Seorang eksekutif mungkin memerlukan penghasilan di atas 15 juta rupiah agar seluruh kebutuhannya terpenuhi. Itu pun tidak selalu membuatnya merasa sejahtera. Tapi bagi guru, penghasilan Rp3 juta sampai Rp5 juta sudah cukup. Indikator sejahtera bagi guru bukan apartemen, mobil mewah, atau perhiasan, tapi tercukupinya makanan, sandang, rumah, dan biaya pendidikan bagi anak-anak.

15. Siap Dilupakan
Saat memutuskan jadi guru, seseroang tidak berharap akan tampil di publik sebagai orang yang berjasa. Sebaliknya, guru senantiasa berada di belakang panggung. Guru selalu siap dilupakan jusru saat siswa telah suskses. Guru tidak berharap penghargaan meski siswanya telah jadi presiden. Dia akan tetap di ruang kelas dan terus melantunkan doa bagi siswa-siswanya.

sumber

Buku Guru Kurikulum 2013

Posted on Updated on

silahkan download Buku Guru Kelas 1, tema 1 Diriku di sini
silahkan download Buku Guru Kelas 1, tema 2 Kegemaranku di sini
silahkan download Buku Guru Kelas 1, tema 3 Kegiatanku di sini
silahkan download Buku Guru Kelas 1, tema 4 Keluargaku di sini

buku 1 edit buku 2 1 edit
buku 3 editbuku 4 edit

Bulan Ramadhan, Bulan Penuh Pendidikan

Posted on

Pendahuluan

____Segala puji syukur patut kita panjatkan ke hadlirat Allah SWT yang telah memberikan kesempatan kepada pembaca semua untuk bertemu kembali dengan bulan mulia yaitu bulan ramadhan. Dalam berbagai literatur ternyata bulan suci Ramadhan memiliki banyak julukan selain disebut Bulan puasa, karena didalamnya diwajibkan bagi ummat muslim yang beri-iman untuk menjalankan ibadah puasa.

Bulan Pendidikan

____‘Bulan pendidikan’ atau dalam bahasa arab disebut sebagai ’syahrul at tarbiyah’ adalah salah satu julukan lain yang sering diberikan kepada bulan ramadhan karena ternyata dalam satu bulan dalam satu tahun, disediakan bulan sebagai wahana training atau pelatihan bagi ummat Muslim guna menghadapi berbagai cobaan dan godaan kehidupan dan penghidupan. Mengapa disebut bulan pendidikan (tarbiyah) dan bukan bulan pengajaran (taalim)? Padahal selama ini banyak orang menyamakan antar pendidikan dengan pengajaran.

Pendidikan dan Pengajaran

Karena sesungguhnya terdapat perbedaan mendasar antara pemahaman arti kata Pendidikan dan Pengajaran. Menurut Ki Hajar Dewantara yang diakui sebagai bapak pendidikan nasional Indonesia, Pendidikan diartikan sebagai tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, dengan makna lain, pendidikan itu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Dalam pengertian tersebut tersirat makna bahwa pendidikan membutuhkan waktu yang lama karana terkait dengan pembentukan karakter dan kebiasaan manusia.

Merujuk kepada definisi pendidikan, Menurut UU No. 20 tahun 2003, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara. Kesamaan dalam dedinisi ini adalah bahwa pendidikan itu selalu mengaitkan dengan hal yang bersifat ’soft skill’ yaitu berbagai potensi diri seperti kepribadian dan ahlak, disamping pengendalian diri.

Sedangkan Pengajaran menurut Ki Hajar Dewantara adalah merupakan bagian dari pendidikan. Ia menyatakan sebagai bahwa ” pengajaran (onderwijs) itu tidak lain dan tidak bukan ialah salah satu bagian dari pendidikan. Jelasnya, pengajaran tidak lain ialah pendidikan dengan cara memberikan ilmu atau pengetahuan kecakapan ”. Artinya pengajaran hanya terkait dengan kegiatan penyampaian ilmu sehingga hanya ditujukan secara khusus terhadap akal manusia.

Dalam pemisalan yang sederhana, dari pengajaran kita semua mengetahui bahwa kualitas keimanan itu pasti naik dan turun, selain berdasarkan pengalaman masing masing orang, juga telah ditegaskan oleh Rasulullah SAW bahwa ”Iman itu kadang naik kadang turun maka perbaharuilah iman kalian dengan la ilaha illallah.” (HR Ibn Hibban). Artinya setiap orang yang belajar akan mendapat ilmu dan mengetahui bahwa iman itu naik-turun. Namun bagaimana untuk menjaga agar iman itu tidak gampang turun, maka dibutuhkan pendidikan sebagai sarana untuk mengubah cara pandang dan kebiasaan yang dapat membuat turunnya iman. Singkatnya, Pengajaran adalah untuk menjadi tahu, dan Pendidikan untuk menjadi bisa dan terbiasa.

Dan bulan ramadhan dapat dijadikan wahana yang sangat tepat untuk mendidik berbagai hal, sejak dari yang bersifat jasmani, pola pikir, hingga masalah hati kita. Intinya dalam bahasa modern salah satu hikmah ramadhan adalah menjadi sarana mendidik dan melatih attitude atau sikap kita.

Pertama, Sikap kita terhadap Allah SWT selaku Sang Pencipta Kehidupan. Jika selama diluar ramadhan kita terbiasa meng-abaikan perintah dan larangan dari Allah SWT, maka selama ramadhan kita dibiasakan mengikuti segala perintahnya, sekalipun terhadap hal hal yang boleh dilakukan pada saat diluar bulan ramadhan. Diantara hal tersebut adalah makan minum di siang hari. Hanya karena perinta Allah SWT sajalah maka seluruh ummat muslim yang menjalankan ibadah puasa harus menahan diri untuk tidak makan dan minum di siang hari. Kegiatan seperti ini mendidik kita untuk selalu patuh tanpa reserve kepada sang Maha Pencipta, bahwa untuk menjalankan perintah-NYA tidak perlu ada ke-enggan-an apalagi memperdebatkannya. Termasuk ketika kita bersegera memenuhi panggilan-NYA berupa adzan pada saat waktu masuk pada waktu Shalat. Ketika ramadhan, setiap ummat yang ber-iman akan membiasakan dirinya untuk bergegas dan tampil melaksanakan shalat berjamaah pada sesaat setelah berkumandang suara adzan.

Kedua, Sikap kita terhadap Nabi Besar Muhammad SAW. Bila selama ini kita jarang melaksanakan sunnah yang menjadi sikap keseharian Rasullullah SAW, maka selama ramadhan kita dididik untuk melaksanakan berbagai sunnah yang diajarkan oleh Beliau. Sunnah untuk melaksanakan sahur, sunah utk melaksanakan shalat rawatib sebelum shalat subuh, sunah melaksanakan dzikir dan wirid setelah shalat subuh, menjalankan shalat dhuha, hingga menyegerakan berbuka puasa dan melaksanakan taraweh pada malam harinya. Rutinitas yang dilakukan selama ramadhan tersebut, diharapkan bisa menumbuhkan myelin (otot memori) yang menurut Rhenald Kasali sebagai otot yang tumbuh berkembang karena kebiasaan kita melakukan sesuatu, sehingga menjadikan hal yang terbiasa melakukan sunnah pada saat diluar bulan ramadhan.

Ketiga, Sikap kita terhadap kitab Suci Alqur’an. Sebagai manusia ber-akal tentunya kita sepakat bahwa semua benda yang diproduksi oleh pabrik selalu membutuhkan ’manual book’ atau buku manual agar benda tersebut dapat berfungsi optimal sesuai tujuan pembuatannya. Pihak yang berhak dan berwenang serta memiliki otoritas untuk mengeluarkan buku manual tersebut tentu adalah pabrik selaku pihak yang membuat barang tersebut. Karena pihak pabriklah yang mengetahui secara pasti berbagai spesifikasi pembuatannya sehingga dapat diketahui kelebihan dan kekurangannya. Demikian pula dengan penciptaan manusia, tentunya Sang Maha Pencipta selaku pemilik otoritas terhadap ciptaannya, juga mengeluarkan buku panduan penggunaan agar manusia yang diciptakannya berfungsi secara optimum sebagai khalifah di muka bumi. Dan buku panduan itu adalah Kita Suci Al-qur’an. Sehingga supaya hidup kita optimum sebagai manusia yang diciptakan oleh Allah SWT, maka sudah seharusnya menjalankan hidup sesuai dengan arahan dan petunjuk Al-qur’an . Pada saat bulan suci inilah, seluruh ummat diharapkan dapat membuka kembali dan mempelajari buku petunjuk kehidupan ini.

Ke-empat. Sikap terhadap sesama mahluk. Perintah menahan lapar yang diwajibkan dalam puasa, salah satunya dimaksudkan agar kita dapat merasakan kondisi yang dialami oleh sebagian saudara kita yang belum ber-untung. Masih banyak manusia lain yang belum beruntung dapat mengisi kebutuhan perutnya seteratur kita ketika lapar. Mereka bahkan berjuang mati matian untuk sekedar mendapatkan pengganjal perut guna bertahan hidup. Sehingga diharapkan kebiasaan menahan lapar yang dilakukan pada bulan ramadhan dapat membangkitkan rasa empati kita, supaya timbul perasaan kemauan untuk berbagai rezeki dan kebahagiaan kepada saudara kita yang belum beruntung. Itula kenapa Rasul SAW mengajarkan agar kita memperbanyak sedekah pada saat bulan puasa ini, karena Allah SWT menjanjikan pahala yang berlipat ganda atas semua amal kebajikan yang dilakukan pada bulan suci ini.

Ke-lima. Sikap terhadap diri sendiri. Berbagai kebebasan yang kita lakukan diluar bulan ramadhan terkadang tanpa kita sadari membawa dampak buruk kepada kondisi diri kita pribadi baik kondisi jasmani maupun rohani. Bila selama ini kita sering makan dan minum berlebihan sehingga membuat beban kerja yang keras bagai organ organ tubuh kita, maka pada saat puasa inilah kita memberikan kesempatan kepada organ tubuh untuk ber-istirahat sekitar 13 jam dalam sehari. Padahal banyak orang yang mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk mengikuti program detoksifikasi (pembuangan racun dari dalam tubuh), sementara menurut banyak ahli, berpuasa adalah salah satu jenis detoksifikasi yang sangat bermanfaat untuk tubuh kita. Demikian juga dengan kondisi rohani kita yang selama ini selalu mengutamakan keinginan hawa nafsu dalam mengarungi kehidupan, maka pada bulan suci ini, kita dilatih untuk mengendalikan hawa nafsu agar lebih ter-arah menuju kebaikan.

Dengan demikian, diharapkan setelah mengalami pendidikan dalam waktu singkat selama bulan ramadhan, maka sebagai ummat muslim dapat meraih derajat ketaqwaan sebagai salah satu ciri perubahan yang diharapkan. Semoga kita semua dapat menjalankan ibadah puasa dengan niat untuk merubah menuju kehidupan jasmani dan rohani yang lebih baik. Aamiin…

SUMBER: http://www.kaskus.co.id/thread/53b26a3e96bde6df1d8b4568/?ref=homelanding&med=hot_thread

Foto-Foto Sedih Pendidikan Di Indonesia, SPECIAL HARDIKNAS!!

Posted on Updated on

1. Ke Sekolah
1

Anak-anak ini mungkin merasa kaki mereka akan melepuh saking jauhnya melangkah. Namun pilihan berat itu terpaksa mereka ambil lantaran sepatu yang mereka miliki minim dan itu harus dipakai berhati-hati. Jadi daripada sepatu jebol, lebih baik menahan kaki yang sakit.

2. Sekali Mendayung Dua Tiga Pulau Terlampaui
2

Sudah menjadi rahasia umum bahwa tak semua wilayah Indonesia sudah mendapat pembangunan merata. Ada beberapa kawasan yang dibelah oleh sungai. Tak adanya jalur lalu lintas darat, membuat para pelajar harus rela naik perahu untuk sekolah.

3. Berdesakan untuk Ilmu
3

Jika kamu yang tinggal di kota besar, untuk sekolah bisa naik mobil atau motor pribadi. Namun bagaiman mereka yang di kota-kota kecil dengan transportasi umum yang tak banyak dan mahal? Mereka harus rela berdesakan di sebuah mobil bak terbuka. Menahan panas dan keringat yang pekat di tubuh demi mendapat pendidikan.

4. Jembatan Maut
6

Lihat betapa semangat dan beraninya mereka…..

5. Arus
8

Kejadian nyata ini terjadi di Jorong Lambung Bukik, Nagari Koto Nan Tigo Utara Surantih, Sumatera Barat. Sangat mengerikan dan begitu besar tekad para pelajar di sana. Bayangkan saja, mereka berani menyeberangi sungai dengan arus deras ini untuk sekolah. Bagaimana dengan seragam mereka? Semoga segera kering ketika masuk di kelas ya.

6. Jebol
9

Masih mengeluh sekolahmu tidak memiliki fasilitas keren semacam AC di dalam ruangannya? Jangan banyak mengeluh! Coba kamu lihat bagaimana pelajar SD ini sekolah. Hanya berdinding bambu yang sudah jebol, itu tak mengurangi semangat mereka untuk menjadi cerdas

dari berbagai sumber

Ki Hajar Dewantara, Pahlawan Pendidikan !(Memperingati Hardiknas)

Posted on Updated on

Ki Hajar Dewantara terkenal dengan ajarannya Sistem Among ( Tutwuri handayani, Ing Madya mangun karsa, Ing ngarsa sung tulada) di Tamansiswa, ialah suatu sistem pendidikan yang berjiwa kekeluargaan dan bersendikan 1) Kodrat Alam, sebagai syarat untuk mencapai kemajuan dengan secepatcepatnya dan sebaik-baiknya; 2) Kemerdekaan, sebagai syarat untuk menghidupkan dan menggerakkan kekuatan lahir batin anak, agar dapat memiliki pribadi yang kuat dan dapat berpikir serta bertindak merdeka. Sistem tersebut menurut cara berlakunya, juga disebut sistem Tutwuri Handayani.

211</a

Kilas balik Sang Pahlawan Pendidikan Nasional kita.Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (EYD: Suwardi Suryaningrat, sejak 1922 menjadi Ki Hadjar Dewantara, EYD: Ki Hajar Dewantara, beberapa menuliskan bunyi bahasa Jawanya dengan Ki Hajar Dewantoro; Beliau di lahirkan pada tanggal 2 Mei 1889. Hari lahirnya, diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. seorang aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda. Ia adalah pendiri Perguruan Taman Siswa, suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi jelata untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda.
Ajarannya yang terkenal ialah sistem Among yang terdiri dari tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan), ing madya mangun karsa (di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa), ing ngarsa sungtulada (di depan memberi teladan). Ia meninggal dunia di Yogyakarta tanggal 28 April 1959 dan dimakamkan di Yogyakarta.
Kiprah dan perjuangan beliau patut jadi panutan dan motivasi buat kita. Bangsa ini perlu mewarisi buah pemikirannya tentang tujuan pendidikan yaitu memajukan bangsa secara keseluruhan tanpa membeda-bedakan agama, etnis, suku, budaya, adat, kebiasaan, status ekonomi, status sosial, dan sebagainya, serta harus didasarkan kepada nilai-nilai kemerdekaan yang asasi .
Beliau dikukuhkan sebagai pahlawan nasional yang ke-2 oleh Presiden RI, Soekarno, pada 28 November 1959 (Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959)

Beliau mendirikan Perguruan Tamansiswa pada tahun 1922, dimana pendidikan Tamansiswa berciri khas Pancadarma, yaitu 1) Kodrat Alam; 2) Kemerdekaan; 3) Kebudayaan; 4) Kebangsaan; 5) Kemanusian, yang berdasarkan Pancasila.

Buah pikiran beliau tersimpan di Museum Dewantara Kirti Griya Yogyakarta (di Pusat Perguruan Tamansiswa Yogyakarta). Museum ini di bangun untuk melestarikan nilai-nilai semangat perjuangan Ki Hadjar Dewantara. Dalam museum ini terdapat benda-benda atau karya-karya Ki Hadjar sebagai pendiri Tamansiswa dan kiprahnya dalam kehidupan berbangsa. Koleksi museum yang berupa karya tulis atau konsep dan risalah-risalah penting serta data surat-menyurat semasa hidup Ki Hadjar sebagai jurnalis, pendidik, budayawan dan sebagai seorang seniman telah direkam dalam mikrofilm dan dilaminasi atas bantuan Badan Arsip Nasional.

foto taman siswa
414

Galeri Hari Guru

Posted on

inilah kami, apa adanya, dengan kamera apa adanya juga🙂
selamat hari guru…professional!

s

sssss

ss

sss

ssss

Selamat Hari Guru! Ini Dia Problema yang Dihadapi Oleh Guru Di Indonesia

Posted on Updated on

imagesGuru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. (Pasal 1 ayat 1). Definisi tersebut tercantum di dalam Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen.

Kalimat ”Guru adalah Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” tentu sudah tidak asing lagi ditelinga kita. Guru yang telah melahirkan banyak orang-orang yang berkualitas di negeri ini masih menghadapi bermacam problema yang hingga sekarang tidak kunjung tuntas seperti masalah kualitas guru, jumlah guru yang masih belum memadai, distribusi guru serta kesejahteraan guru.

1. Kualitas Guru.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (Kemdikbud) pada beberapa tahun yang lalu telah mengeluarkan program Sertifikasi Guru. Program tersebut bertujuan untuk menciptakan guru yang berkualitas.
Malangnya, dari hasil uji kompetisi yang telah dilakukan selama tiga tahun terakahir itu menunjukan bahwa kualitas guru di Indonesia masih sangat rendah. Hal itu dapat dilihat dari program sertifikasi guru tersebut yang memenuhi syarat hanya 2.08 juta guru atau sekitar 70,5 persen. Sedangkan 86.167 guru lainnya belum memenuhi syarat sertifikasi. Tidak hanya itu, saat dilaksanakan uji kompetis guru, rata-rata guru hanya mendapatkan nilai dibawah 50.

Selain dari hasil uji kompetisi, ternyata dari sisi kualifikasi pendidikan guru juga masih rendah yaitu dari 2,92 juta guru hanya sekitar 51 persen yang berpendidikan S-1 atau lebih, sedangkan sisanya belum berpendidikan S-1.

Masalah kualitas guru ini tentu menjadi sebuah PR bagi Kemdikbud untuk segera menuntaskannya, sehingga kualitas pendidikan di Indonesia bisa lebih berkembang dari sebelummya.

Kualitas guru yang masih rendah ini berdampak pada kualitas pendidikan. Hal itu dapat dilihat dari hasil Ujian Nasional. Kualitas guru yang rendah ini juga akibat dari problema lainnya yaitu jumlah guru yang masih belum memadai.

2. Jumlah Guru yang Masih Kurang
Jumlah guru yang masih belum memadai juga menjadi problema guru di negeri ini. Di perkirakan pada pada tahun 2010 hingga 2015 mendatang ada sekitar 300.000 guru di semua jenjang pendidikan yang akan pensiun, sehingga harus segera dicari pengganti untuk menjamin kelancaran proses belajar mengajar.

Jumlah guru yang masih belum memadai ini sangat berdampak pada kualitas guru, yang pada akhirnya berdampak pada mutu pendidikan di negeri ini.

Di beberapa sekolah masih banyak guru yang yang mengajar lebih dari satu mata pelajaran akibat dari kekurangan jumlah guru. Maka tak heran bila ada guru yang mengajarkan mata pelajaran lain di luar bidang keahliannya.

Sebagai contoh guru Matematika terpaksa mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia, atau mata pelajaran lainnya yang tidak sesuai keahliannya karena jumlah guru yang kurang memadai. Tentu problema ini juga patut menjadi perhatian pemerintah Indonesia.

3. Distribusi Guru
Pendistribusian guru atau penyaluran guru juga menjadi problema yang dihadapi guru di Indonesia. Pendistribusian yang tidak merata serta tidak sesuai kuota mengakibatkan di sejumlah daerah kekurangan guru terutama daerah perbatasan. Sebagian guru enggan untuk menjadi tenaga pengajar di daerah perbatasan dengan berbagai alasan.

Sehingga kehadiran guru lebih banyak tertumpu di perkotaan dibandingkan daerah perbatasan. Padahal kehadiran mereka sangat diperlukan untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa ini terutama daerah perbatasan.

Tak heran jika ada yang menjadi guru bukan berasal dari pendidikan yang tinggi seperti S1. Mereka yang mengajar ini biasanya lebih melihat pentingnya masa depan anak-anak perbatasan ketimbang materi yang akan mereka dapatkan dari hasil mengajar tersebut.

4. Kesejahteraan Guru
Kesejahteraan guru itulah yang hingga sekarang masih sering kita lihat. Saat ini masih sering kita lihat bahwa guru yang mendapat gelar pahlawan tanpa tanda jasa ini benar-benar dibayar jasanya tanpa upah yang selayaknya. Ironinya hal tersebut kurang mendapat perhatian khusus dari pemerintah di negeri ini.

Tampaknya guru honorer yang benar-benar merasakan hal tersebut. Tidak hanya dibayar jauh dari upah layaknya seorang guru, melainkan juga status resmi mereka yang masih terombang-ambing tanpa keputusan yang jelas. Padahal pada tahun 2010-2015 sekitar 300.000 guru di semua jenjang pendidikan akan pensiun.

Apabila kesejahteraan guru baik itu PNS atau honerer tersebut masih tidak mendapat perhatian khusus pemerintah, maka negeri ini akan mengalami krisis kekurangan guru. Hal itu dampak dari kurangnya minat generasi muda untuk menjadi tenaga pendidik akibat potret kesejahteraan guru di negeri ini masih kurang diperhatikan oleh pemerintah.